PENGALAMAN TERBANG YANG MENDEBARKAN
Jelas sekali masih terngiang di benakku hingga kutorehkan
coretan ini. Rasanya sulit untuk dilupakan pengalaman buruk terbang ditengah cuaca
yang kurang mendukung, kalau tidak mau dibilang buruk, aku berharap cukup sekali
ini saja mudah-mudahan tidak terulang kembali pengalaman buruk yang sangat mendebarkan.
Tentunya setelah kejadian itu membuatku sedikit
trauma namun bukan berarti kapok atau jera melakukan perjalanan menggunakan
pesawat terbang di kesempatan lain tugas kedinasan.
Hari itu hari Jumat siang tanggal 8 Desember 2017. Aku
bersama teman-teman berencana akan pulang ke Lampung setelah beberapa hari
berada di Kota Batam, disana tentunya dalam rangka tugas dinas luar memenuhi
undangan. Awalnya kami hanya bertiga, saya dan 2 orang lainnya dari Kabupaten
Lampung Utara dan Lampung Tengah. Namun setelah berada di Bandara Branti, bertambah
menjadi 9 orang. Mereka berasal dari Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 2 orang
dan dari propinsi 3 orang sehingga totalnya menjadi 9 orang.
Sebelumnya tiket pesawat sudah kami pesan PP (Pulang dan
Pergi) dari jauh hari, memang cukup beralasan mengapa kami pesan PP? Hanya untuk
menghindari kehabisan tiket pada saat pulang pada hari penutupan acara nanti. Acara
yang akan kami sambangi ini, pesertanya berasal dari wilayah Sumatera dan sebagian
lainnya berasal dari propinsi di pulau Jawa. Sehingga dikuatirkan akan terjadi
lonjakan besar penumpang memesan tike pulang alias full booking padahal itu
hanya kekuatiranku saja faktanya tidak demikian. Perkiraan kami rupanya salah, beberapa
panitia disana banyak yang menawarkan tiket untuk kepulangan bahkan sengaja
diumumkan lewat tulisan yang ditempel pada meja panitia.
INSIDEN DITENGAH PENDARATAN PESAWAT MENGALAMI TURBULENCE
Menurut schedule pada hari itu pukul 11.00 WIB kami sudah take off dari Bandara Internasional Hang Nadim menuju Bandara Internasional Branti, jika lancar perjalanan ke Batam memakan waktu sekitar 1 jam, 7 menit, ternyata mengalami delay sehingga terjadi perubahan jadwal keberangkatan. Semestinya pukul 11.00 WIB menjadi pukul 13.40 WIB dan diperkirakan pukul 14.47 kami tiba di Bandara Internasional Branti. Ternyata diluar dugaan, jam tangan kami menunjukkan pukul 15.50 kami tiba, sehingga mengalami keterlambatan kurang lebih 1 jam-an lebih, hal ini terjadi akibat pesawat mengalami beberapa kali hambatan pada saat hendak landing di runway bandara oleh karena adanya cuaca buruk sehingga pesawat mengalami gagal pendaratan beberapa kali. Alhasil, pesawat yang kami tumpangi ini sudah 2 kali mencoba melakukan pendaratan namun gagal. Setelah melewati berbagai rintangan yang cukup membuat adrenalin terpacu dan jantung serasa copot karena berdegup kencang, alhamdulillah akhirnya pesawat dapat landing sukses tanpa terjadi sesuatu apapun penumpang dan pesawat semuanya dalam keadaan aman.
Ceritanya pada pagi menjelang siang, acara penutupan selesai
jam 9-an. Ada jeda waktu sekitar 2 jam. Perjalanan dari hotel menuju bandara
hanya memakan waktu 30 menit saja jika dalam keadaan normal alias tidak macet. Pagi menjelang siang itu, kami
segera bergegas ke kamar untuk mempersiapkan kepulangan. Pakaian kotor yang
belum sempat dicuci, serta menyusun berbagai barang yang kami beli terlihat masih
berantakan disana-sini. Satu persatu semuanya disusun rapi kedalam travel bag
serta sisanya karena tidak muat di dalam tas sehingga dimasukkan ke dalam
kardus agar memudahkan untuk membawanya dalam perjalanan. Setelah segala
sesuatunya beres, kami segera menghubungi taxi yang khusus standby di hotel.
Tidak susah kami mencari taxi pasalnya disana banyak taxi, bus bandara dan
travel yang banyak kita temukan di sekitar hotel. Untungnya di hotel tempat
kami menginap disediakan taxi information sehingga kami tinggal mendatangi dan
bertanya kepada petugas disana. Tidak beberapa lama mobil yang akan membawa
kami ke bandara tiba dan siap mengantarkan kami ke tempat tujuan.
Sebenarnya rombongan kami dari Lampung yang diundang berjumlah
9 orang yang rinciannya 6 orang dari kabupaten/kota ditambah 3 orang
lagi dari propinsi. Awalnya kami masih bersama-sama namun setelah tiba di hotel
Harmony one Hotel tempat kami menginap, rupanya ke- 5 orang ini saja (termasuk aku) kemana-mana senantiasa selalu bersama. Hal ini cukup beralasan, dikarenakan kamar-kamar yang kami tempati kebetulan tidak
berjauhan sementara yang lainnya cukup berjauhan satu sama lain (mencar-mencar). Kamar memang
dari awal telah ditentukan oleh pihak panitia. Praktis kami tidak dapat memilih
sesuai keinginan. Sehingga ke-5 orang ini saja, selalu kemana saja bersama namun
tidak demikian bila di ruangan kami masing-masing berbaur dengan peserta
lainnya yang berasal dari propinsi lainnya. Pada saat hari kepulangan, rupanya
teman yang 2 orang ini, memiliki planning lain, mereka hendak melancong ke negara Singapura yang jaraknya tidak terbilang jauh hanya 45 menit saja perjalanan
menggunakan speedboat untuk tiba disana. Sementara kami yang 3 orang, sesuai
rencana langsung pulang ke Lampung setelah acara dinas selesai karena memang dari awal kami
tidak berniat untuk pergi ke Singapura.
PESAWAT TERASA SEAKAN-AKAN MENGHUJAM (TERJUN BEBAS) KE BUMI
Siang itu cuaca di Batam cukup bersahabat pasalnya
sinar matahari pagi hari itu kami rasakan cukup terik, terlihat hanya sedikit
mendung saja beberapa bagian langit, suhu pada HP androidku menunjukkan 25
derajat celcius. Artinya cuaca memang cukup baik untuk terbang, namun siapa sangka
setelah hampir
1 jam lepas landas dari Bandara Internasional Hang Nadim dan ketika pesawat hendak
landing di Bandara Internasional Branti, Pilot memberitahukan cuaca buruk dan
berawan.
Dari corong pesawat kru pesawat tiba-tiba menginformasikan
bahwa tidak memungkinkan melakukan pendaratan akibat cuaca buruk karena berawam
dan berlangsung hujan cukup deras sehingga diputuskan menungu 10 hingga 15
menit lagi untuk mendarat. Sembari menunggu informasi cuaca layak untuk landing
dari menara Air Traffic Control (ATC) namun jika masih tidak memungkinkan
pesawat akan berbalik arah mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta.
Pada saat pesawat hendak landing episode berikutnya dimulai dan pesawat bergumul dengan awan tebal. Pesawat
menaikkan ketinggian dan berhasil melewati awan tebal, apakah ini yang
dinamakan awan Cumulonimbus atau
bukan aku tidak tau persis. Tak lama kemudian turbulence (goncangan) kembali..
Sontak saja seluruh penumpang dibuat panik pasalnya
terasa sekali pada saat pesawat mencoba untuk landing. Pramugari memeriksa satu
persatu memastikan sabuk penumpang apakah sudah terpasang dengan baik dan benar,
lagi-lagi pesawat menumbur awan putih sehingga terjadi turbulence, awalnya hal
itu kami anggap biasa seperti halnya kalau kita naik mobil di jalan berlubang
seperti itulah rasanya. Sebagian penumpang masih bisa tertawa bahkan ada yang
sempat bercanda-canda kecil, namun lama kelamaan keadaan semakin gawat pasalnya
turbulence semakin kuat, seakan-akan pesawat susah untuk dikendalikan sang
Pilot, dan akan terjun bebas dari ketinggian beratus-ratus meter bahkan mungkin
beribu kilometer, demikian pikiranku berkecamuk dalam hati.
Kebetulan disamping tempat dudukku kursinya kosong, karena tremor cukup keras, sontak saja pramugari yang semula berdiri mengecek penumpang, salah satu pramugari itu cepat-cepat duduk di kursi sebelahku dan seketika itu juga dengan replek memasang sabuk pengaman. Temanku sempat bertanya kepada pramugari, “Mbak apakah memang sering terjadi seperti ini,” tanyanya. Pramugari menjawab, “Baru kali ini pak,” ucapnya singkat, rupanya dia pun cukup panik terlihat ekpresi raut wajahnya. Rasanya seperti kita jatuh dari ketinggian kemudian naik kembali atau seperti naik rollercoaster yang jantung rasanya mau copot jantung ini ketika pesawat turun dan naik kembali. Kembali suasana semakin tegang, ketika pesawat turbulence kembali lebih keras dari pendaratan yang pertama sontak saja penumpang panik dan shock, masing-masing berdoa demi keselamatan pesawat dan penumpang, tak terkecuali aku.
Mungkin akulah yang terlihat sangat panik dan takut walaupun rasa takut itu aku sembunyikan, namun tidak ada pilihan lain kecuali berpasrah diri kepada Sang Maha Pencipta Allah SWT, Sang penentu hidup dan mati, tak henti-hentinya aku memanjatkan doa agar pesawat tidak mengalami hal-hal yang buruk. Karena berulangkali Turbulance dalam durasi waktu berdekatan, hanya istighfar dan berdoa yang dapat aku lakukan, demikian pula teman disebelahku pun sama. Beberapa detik kemudian karena pesawat tidak dapat landing, pesawat naik kembali dari ketinggian, barulah kemudian pesawat tidak mengalami turbulence. Pesawat mencoba menghindari awan dan naik kembali. Sejenak pemandangan lapisan awan pun terlihat menyembul warna orange sunset yang memancar akibat pancaran sinar matahari, sinar matahari menembus ke dalam pesawat, akibatnya di dalam pesawat menjadi terang namun bila memasuki awan kembali pesawat menjadi gelap kembali karena sinar matahari terhalang masuk.
Sejenak pesawat terbang normal menghindari awan
tebal dan setelah itu berbalik arah berputar menjauhi Bandara Branti menuju ke
arah Bakauheni, sempat aku menoleh ke bawah lewat jendela pesawat terlihat jelas Dermaga
Pelabuhan Bakauheni, dari sana kemudian pesawat berputar kembali menuju ke arah
Bandara Internasional Branti karena sudah ada informasi dari ATC Bandara Branti. Ada sekitar 1 jam-an kami berputar-putar di
angkasa menunggu informasi dari menara ATC Bandara Branti
terkait perkembangan cuaca disana untuk melakukan pendaratan lanjutan. Kebetulan disamping tempat dudukku kursinya kosong, karena tremor cukup keras, sontak saja pramugari yang semula berdiri mengecek penumpang, salah satu pramugari itu cepat-cepat duduk di kursi sebelahku dan seketika itu juga dengan replek memasang sabuk pengaman. Temanku sempat bertanya kepada pramugari, “Mbak apakah memang sering terjadi seperti ini,” tanyanya. Pramugari menjawab, “Baru kali ini pak,” ucapnya singkat, rupanya dia pun cukup panik terlihat ekpresi raut wajahnya. Rasanya seperti kita jatuh dari ketinggian kemudian naik kembali atau seperti naik rollercoaster yang jantung rasanya mau copot jantung ini ketika pesawat turun dan naik kembali. Kembali suasana semakin tegang, ketika pesawat turbulence kembali lebih keras dari pendaratan yang pertama sontak saja penumpang panik dan shock, masing-masing berdoa demi keselamatan pesawat dan penumpang, tak terkecuali aku.
Mungkin akulah yang terlihat sangat panik dan takut walaupun rasa takut itu aku sembunyikan, namun tidak ada pilihan lain kecuali berpasrah diri kepada Sang Maha Pencipta Allah SWT, Sang penentu hidup dan mati, tak henti-hentinya aku memanjatkan doa agar pesawat tidak mengalami hal-hal yang buruk. Karena berulangkali Turbulance dalam durasi waktu berdekatan, hanya istighfar dan berdoa yang dapat aku lakukan, demikian pula teman disebelahku pun sama. Beberapa detik kemudian karena pesawat tidak dapat landing, pesawat naik kembali dari ketinggian, barulah kemudian pesawat tidak mengalami turbulence. Pesawat mencoba menghindari awan dan naik kembali. Sejenak pemandangan lapisan awan pun terlihat menyembul warna orange sunset yang memancar akibat pancaran sinar matahari, sinar matahari menembus ke dalam pesawat, akibatnya di dalam pesawat menjadi terang namun bila memasuki awan kembali pesawat menjadi gelap kembali karena sinar matahari terhalang masuk.
Alhamdulillah ketika pendaratan ke-2 ini berhasil mulus walau pesawat mengalami turbulence namun masih bisa diatasi atas kerjasama tim yang cukup piawai antara sang pilot dan co-pilot beserta kru pesawat lainnya (pramugari/ra dan teknisi pesawat), walau penumpang masih ada yang terlihat panik namun karena guncangan dibanding sebelumnya yang sudah semakin mereda sehingga membuat suasana tidak menjadi gaduh kembali. Namun di dalam situasi ini kami tidak tidak ada pilihan lain kecuali berpasrah diri dan berdoa kepada Sang Pencipta (Allah SWT) dan pada pendaratan ini akhirnya atas kuasa dan ijin Allah SWT pendaratan yang ke-2 ini berjalan sukses. Alhamdulillah Ya Allah Ya Rabbi ucapku dalam hati, Kau telah menyelamatkan kami, tak henti-hentinya aku mengucapkan kalimat syukur. Terlihat wajah penumpang di sekitarku sumringah namun ada beberapa penumpang yang menangis karena shock, setidaknya ada 2 penumpang cewek yang terlihat menangis disekitar tempatku duduk karena kebetulan duduk tepat dibelakangku. Yang lainnya aku tidak sempat memperhatikan akibat kepanikan yang luar bisa yang kami alami sehingga aku hanya fokus pada diriku sendiri. Mungkin sangking riangnya dan terharu, sempat ditenangkan oleh rekan-rekannya.
Selesai